Saturday, July 16, 2016

Kabod Atau Ikabod

"Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: 'Mengapa TUHAN membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian TUHAN, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.' 

Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian TUHAN semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera sesudah tabut perjanjian TUHAN sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: 'Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?' Ketika diketahui mereka, bahwa tabut TUHAN telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: 'Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,' dan mereka berkata: 'Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!'

Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. 

Seorang dari suku Benyamin lari dari barisan pertempuran dan pada hari itu juga ia sampai ke Silo dengan pakaian terkoyak-koyak dan dengan tanah di kepalanya. Ketika ia sampai, Eli sedang duduk di kursi di tepi jalan menunggu-nunggu, sebab hatinya berdebar-debar karena tabut Allah itu. Ketika orang itu masuk ke kota dan menceritakan kabar itu, berteriaklah seluruh kota itu. Ketika Eli mendengar bunyi teriakan itu, bertanyalah ia: 'Keributan apakah itu?' Lalu bersegeralah orang itu mendapatkan Eli dan memberitahukannya kepadanya. Eli sudah sembilan puluh delapan tahun umurnya dan matanya sudah bular, sehingga ia tidak dapat melihat lagi. 

Kata orang itu kepada Eli: 'Aku datang dari medan pertempuran; baru hari ini aku melarikan diri dari medan pertempuran.' Kata Eli: 'Bagaimana keadaannya, anakku?' Jawab pembawa kabar itu: 'Orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin; kekalahan yang besar telah diderita oleh rakyat; lagipula kedua anakmu, Hofni dan Pinehas, telah tewas, dan tabut Allah sudah dirampas.' Ketika disebutnya tabut Allah itu, jatuhlah Eli telentang dari kursi di sebelah pintu gerbang, batang lehernya patah dan ia mati. Sebab telah tua dan gemuk orangnya. Empat puluh tahun lamanya ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel. 

Adapun menantunya perempuan, isteri Pinehas, sudah hamil tua. Ketika didengarnya kabar itu, bahwa tabut Allah telah dirampas dan mertuanya laki-laki serta suaminya telah mati, duduklah ia berlutut, lalu bersalin, sebab ia kedatangan sakit beranak. Ketika ia hampir mati, berkatalah perempuan-perempuan yang berdiri di dekatnya: 'Janganlah takut, sebab engkau telah melahirkan seorang anak laki-laki.' Tetapi ia tidak menjawab dan tidak memperhatikannya. Ia menamai anak itu Ikabod, katanya: 'Telah lenyap kemuliaan dari Israel' --karena tabut Allah sudah dirampas dan karena mertuanya dan suaminya. Katanya: 'Telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas.'" - 1 Samuel 4

Merenungkan kisah kekalahan bangsa Israel saat melawan pasukan Filistin, hingga puluhan ribu orang Israel tewas, padahal Tabut Tuhan bersama mereka! Dan ini menyebabkan imam Eli shock dengan dirampasnya Tabut Tuhan dari tangan mereka oleh orang Filistin, yang akhirnya tidak hanya anak-anaknya, tapi imam Eli sendiri mati.

Mereka berpikir bahwa Tabut Tuhan bersama mereka itu menjadi JAMINAN Tuhan hadir dan menyertai, puluhan tahun imam Eli melayani dan tidak menyadari bahwa semua tinggal rutinitas dan tiba-tiba semua berbalik di depan matanya. Kalau Tabut Tuhan adalah jaminan, kenapa Uza mati? Kenapa 70 orang di Bet-Semes mati saat melihat tabut? Kenapa puluhan ribu orang Israel mati dalam pertempuran era imam Eli?

Karena mereka hanya memegang dan mementingkan Tabut Tuhan sebagai jaminan TANPA mengindahkan dosa, perbuatan, kekudusan, dan bagaimana hubungan mereka dengan Tuhan.

Pernahkah kesombongan masuk ke dalam diri kita dengan berpikir bahwa Tuhan memerlukan kita untuk menyatakan kemuliaan Nama-Nya? Mungkin bukan kita secara individu, tetapi kita secara (korporat) gereja?

"Ah, kalau bukan karena gerakan gereja kita, bagaimana mungkin nama Tuhan dapat dipermuliakan?"

Jangan sampai suatu saat nanti Tuhan mengajari kita suatu fakta bahwa kegerakan ini disingkirkan oleh Tuhan, dan Tuhan tetap sanggup menyatakan kemuliaan-Nya. Mungkin kesombongan ini masuk dengan tidak disadari. Pernahkah kita berpikir bahwa tanpa kita, pekerjaan Tuhan akan terhambat? Kalau kita berpikir seperti ini nanti Tuhan akan menyingkirkan kita dari pelayanan. Dia tidak lagi akan memakai kita, tetapi Dia akan menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan akan makin berkembang tanpa adanya kita yang berbagian di dalamnya.

Mungkin juga kesombongan ini muncul dalam bentuk menganggap diri lebih baik dari rekan pelayanan yang lain. Kita merasa diri kita lebih suci, lebih saleh, atau lebih ahli dari yang lain dan mulai memandang rendah yang lain karena kita merasa Tuhan pasti akan memakai kita lebih daripada yang lain. Ini kesombongan ala orang Farisi. Atau jangan-jangan kesombongan merasa tidak perlu bergantung kepada Tuhan di dalam doa pribadi atau bersama.

Bahkan kita merasa pelayanan bisa berjalan terus tanpa harus bersujud dalam doa kepada Tuhan atau bersama-sama berdoa dengan jemaat lainnya. Kiranya kita menyadari bahwa Tuhan tidak harus memakai kita. Jika toh Dia tetap memanggil kita untuk melayani-Nya, itu semua dilakukan karena belas kasihan-Nya bagi kita. Mari belajar.

(JEK)

Thursday, June 16, 2016

Menanti Rapture Sampai 2023

Kita telah pelajari bahwa Hari Pengangkatan (Rapture) adalah Rosh Hashanah, lalu dapatkah kita mengetahui, Rosh Hashanah tahun berapakah hal itu akan terjadi? Memang sudah begitu banyak penafsiran akan tahun di mana hari yang misterius ini akan terjadi, dan sebenarnya semua penafsiran hitungan tersebut tidak ada yang salah. Namun karena Cawan Jiwa-Jiwa, yakni jumlah orang dari bangsa-bangsa lain yang menerima Injil, belum terpenuhi, maka masa lawatan dan tuaian jiwa-jiwa terbesar belum kunjung terjadi (Roma 11:25). Dan akibatnya Rapture pun telah mengalami penundaan beberapa kali.

Sebelum membahas rincian berbagai ayat firman dan penafsirannya, hendaklah diketahui bahwa akhir dari zaman Gereja Tuhan telah ditentukan, yakni 2017. Hal itu telah saya muat di tulisan yang terdahulu, 5777 & 2017 Dalam Sekilas Perenungan: Akhir Dari Zaman Gereja Tuhan. Tepat 1 Nisan 5777 atau 28 Maret 2017 kemungkinan dimulainya 7 tahun Masa Tribulasi besar. Dan keadaan setelah tahun itu sungguh merupakan peperangan rohani sekaligus penuaian jiwa-jiwa yang paling intens dan sengit melalui berbagai cara penginjilan di bangsa-bangsa hingga tibanya Rapture.

Pelataran Yang Tergadaikan

"Kemudian diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan kata-kata yang berikut: 'Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang beribadah di dalamnya. Tetapi kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah engkau mengukurnya, karena ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan menginjak-injak Kota Suci empat puluh dua bulan lamanya.' Dan Aku akan memberi tugas kepada dua saksi-Ku, supaya mereka bernubuat sambil berkabung, seribu dua ratus enam puluh hari lamanya." - Wahyu 11:1-3

"Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara di situ seribu dua ratus enam puluh hari lamanya." - Wahyu 12:6

Dikatakan bahwa bangunan Bait Suci Tuhan masih dipertahankan, namun bagian pelatarannya diserahkan kepada bangsa-bangsa lain untuk diinjak-injak. Kapankah bagian halaman tersebut mulai diinjak-injak? Dome of The Rock dan Masjid Al Aqsa mulai didirikan pada tahun 688 Masehi, dan posisinya tepat di atas pelataran Bait Suci ke-2 yang runtuh pada tahun 70 Masehi. Pendirian kedua bangunan tersebut merupakan salah satu bagian penggenapan secara fisik dari apa yang telah dinubuatkan 6,5 abad sebelumnya. Dan setelah pendirian dua situs Islam itu dibangun, dikatakan ada masa berkabung selama 1,260 hari. Namun karena hal ini juga termasuk masa penghukuman kaum Israel karena menolak Sang Mesias dan Injil Kristus, maka berdasarkan Yehezkiel 4:5-6, 1,260 hari dapat diinterpretasikan sebagai 1,260 tahun.

"Beginilah Aku tentukan bagimu: Berapa tahun hukuman kaum Israel, sekian harilah engkau menanggung hukuman mereka, yaitu tiga ratus sembilan puluh hari. Kalau engkau sudah mengakhiri waktu ini, berbaringlah engkau untuk kedua kalinya, tetapi pada sisi kananmu dan tanggunglah hukuman kaum Yehuda empat puluh hari lamanya; Aku menentukan bagimu satu hari untuk satu tahun." - Yehezkiel 4:5-6

Jadi jika kita menambahkan 1,260 tahun dari tahun 688 maka kita akan mendapati tahun kemerdekaan negara Israel yang kembali berdiri, yakni tahun 1948. Perkabungan selama 1,260 tahun mulai berkurang ketika Tuhan mulai menggenapi firman-Nya dengan mengukuhkan kembali eksistensi negara Israel yang telah hilang selama hampir 19 abad.

Tidak hanya itu, jika menghitung dengan sistem kabisat, maka 1,260 hari atau 42 bulan atau 3,5 tahun memiliki 1,279 hari. Dan jika ditambahkan 1,279 tahun dari tahun 688, maka kita akan mendapati tahun 1967, yakni tahun reunifikasi Yerusalem dengan Israel melalui Perang 6 Hari di awal Juni 1967.

Posisi Dan Identitas Dua Saksi Elohim

Mungkin ada yang bertanya, jika nubuatan yang tertulis di Wahyu 11:1-3 dapat diinterpretasi seperti itu, maka bagaimana dengan Dua Saksi Elohim yang ditugaskan mengawal selama 1,260 tahun itu? 

"Mereka adalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki dian yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam." - Wahyu 11:4

Dua Saksi tersebut adalah dua pohon zaitun dan dua kaki dian, siapakah mereka? Kaki dian tak lain adalah Jemaat Tuhan atau Gereja Tuhan (Wahyu 1:20) sedangkan pohon zaitun tak lain adalah Israel (Roma 11:24-36 & Yeremia 11:16). Keduanya telah ada jauh sebelum pelataran Bait Suci diinjak-injak. Mengapa demikian? Sebab sejak Dome of The Rock mulai dibangun di bagian pelataran, sesungguhnya Tuhan hendak berkata bahwa si Pembinasa Keji itu telah berdiri tepat di depan Bait Suci dan siap untuk menduduki dan menyatakan diri sebagai Allah.

Menanti Rapture Sampai 2023

"Pergilah, Daniel, sebab firman ini akan tinggal tersembunyi dan termeterai sampai akhir zaman. Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya. Sejak dihentikan korban sehari-hari dan ditegakkan dewa-dewa kekejian yang membinasakan itu ada seribu dua ratus dan sembilan puluh hari. Berbahagialah orang yang tetap menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari. Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman." - Daniel 12:9-13

Tidak ada peristiwa yang lebih signifikan bagi Israel pada tahun 1978 (688 + 1290) selain Perjanjian Camp David. Perjanjian damai yang diprakarsai oleh Presiden Amerika Serikat saat itu, Jimmy Carter, untuk kedua pihak, yakni Israel (PM Menachem Begin) dan Mesir (PM Anwar Sadat). Perjanjian ini berdampak luar biasa baik, namun harus dibayar oleh nyawa kedua tokoh Timur Tengah itu.

Yang paling menarik adalah kalimat nubuatan Kitab Daniel yang tertulis, "Berbahagialah orang yang tetap menanti-nanti dan mencapai seribu tiga ratus tiga puluh lima hari." Jika kita tambahkan 1,335 tahun dari tahun 688, maka kita akan dapati tahun 2023. Dengan kata lain, penafsiran nubuatan ini hendak berkata bahwa berbahagialah mereka yang tetap menanti-nantikan akhir dari semua kekejian ini sampai tahun 2023.

Pada awal April 2015 lalu, menjelang blood moon ke-3 dari rangkaian Tetrad Blood Moons yang teranyar 2014 - 2015 lalu, saya telah menyatakan, melalui artikel yang berjudul Yang Dipersingkat, bahwa Maret 2017 akan dimulai 7 tahun Masa Tribulasi Besar, dan Rapture yang berlaku adalah Mid-Tribulasi dan BUKAN Pre-Tribulasi. Namun Mid-Tribulasi TIDAK HARUS terbagi rata 3,5 tahun : 3,5 tahun, bisa saja 4,5 tahun : 2,5 tahun, atau 5,5 tahun : 1,5 tahun, atau yang paling ekstrim 6,5 tahun : 0,5 tahun. Dan jika benar skenario yang harus terjadi adalah skenario yang paling ekstrim, maka 6,5 tahun dari Maret 2017 adalah September 2023. Sebab bagian yang dipersingkat yang tertulis dalam Matius 24:21-22 bukanlah jarak waktu dari sekarang hingga Rapture nanti, sebaliknya adalah jarak waktu dari Rapture sampai Second Coming (Kedatangan Anak Manusia Yang Kedua).

Apakah Rapture bisa terjadi lebih cepat daripada 2023? Tentu saja, terutama jika Cawan Jiwa-Jiwa terisi lebih cepat penuh, semakin cepat penuh cawan tersebut, semakin cepat pula Rapture terjadi. Dapatkah Rapture terjadi lebih lambat daripada 2023? Mungkin saja, jika 7 tahun Masa Tribulasi Besar diundur. Namun siapa yang sanggup bertahan pada hari-hari yang semakin jahat itu?

Daftar referensi:

http://watchfortheday.org/thedome.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Islamization_of_Jerusalem
http://goldengateindonesia.blogspot.co.id/2010/10/two-witnesses-of-revelation-dua-saksi.html
http://www.maetos.com/wp/?p=201

About Windunatha

My photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.