Saturday, December 20, 2014

Mau "Take Off"

Sesaat lagi, ya sesaat lagi
Kita akan segera lepas landas
Terbang dari semua kemustahilan
Melayang dalam berbagai keajaiban

Yang dulu keras bagai tembaga
Kini mudah untuk diterobos
Yang dulu sekuat besi
Akan semakin mudah dibentuk

Didikan, didikan dan didikan
Itulah yang terus kita perlukan
Supaya tetap utuh jatah kita
Sehingga makin genap takdir kita
Dan kemuliaan itu menjadi bagian kita

Sampai di sini saja semua keletihan
Sampai di sini saja semua kejenuhan
Sampai di sini saja semua kebekuan
Sampai di sini saja semua kepahitan
Kita sudah mau terbang sebentar lagi
Sampai kita bertemu dengan-Nya di awan-awan

Monday, December 8, 2014

The Bastards

"Empat orang yang sakit kusta ada di depan pintu gerbang. Berkatalah yang seorang kepada yang lain: 'Mengapakah kita duduk-duduk di sini sampai mati? Jika kita berkata: Baiklah kita masuk ke kota, padahal dalam kota ada kelaparan, kita akan mati di sana. Dan jika kita tinggal di sini, kita akan mati juga. Jadi sekarang, marilah kita menyeberang ke perkemahan tentara Aram. Jika mereka membiarkan kita hidup, kita akan hidup, dan jika mereka mematikan kita, kita akan mati.' Lalu pada waktu senja bangkitlah mereka masuk ke tempat perkemahan orang Aram. Tetapi ketika mereka sampai ke pinggir tempat perkemahan orang Aram itu, tampaklah tidak ada orang di sana. Sebab TUHAN telah membuat tentara Aram itu mendengar bunyi kereta, bunyi kuda, bunyi tentara yang besar, sehingga berkatalah yang seorang kepada yang lain: 'Sesungguhnya raja Israel telah mengupah raja-raja orang Het dan raja-raja orang Misraim melawan kita, supaya mereka menyerang kita.' Karena itu bangkitlah mereka melarikan diri pada waktu senja dengan meninggalkan kemah dan kuda dan keledai mereka serta tempat perkemahan itu dengan begitu saja; mereka melarikan diri menyelamatkan nyawanya. Ketika orang-orang yang sakit kusta itu sampai ke pinggir tempat perkemahan, masuklah mereka ke dalam sebuah kemah, lalu makan dan minum. Sesudah itu mereka mengangkut dari sana emas dan perak dan pakaian, kemudian pergilah mereka menyembunyikannya. Lalu datanglah mereka kembali, masuk ke dalam kemah yang lain dan mengangkut juga barang-barang dari sana, kemudian pergilah mereka menyembunyikannya. Lalu berkatalah yang seorang kepada yang lain: 'Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang, marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja.'" - 2 Raja-Raja 7:3-9

Kairos di Sukkot 5775

Sesi ke-3 SHRK di Jakarta pada 8 Oktober 2014 lalu merupakan sebuah momen kairos yang sungguh luar biasa dan takkan pernah terulang lagi, karena saat itu bertepatan dengan perayaan Tabernakel (Sukkot) dan blood moon ke-2 dari rangkaian Tetrad Blood Moons 2014 - 2015 ini.

Dengan disertai berbagai deklarasi, Tuhan memberikan pesan yang begitu mengesankan melalui seorang hamba-Nya, sebuah penglihatan yang demikian:

Tampak gedung Bank of England dengan semua pintunya terbuka dan isinya yang siap untuk dijarah. Di depan gedung tersebut ada segerombolan besar pasukan dan anak-anak Tuhan yang sudah siap untuk menjarah untuk mengisi Masa Keemasan Daud & Salomo.

Supaya kita semua tahu bahwa City of London (Inner London) merupakan satu dari tiga kota kekaisaran yang menguasai bidang ekonomi, keuangan dan seluruh sistem perbankan dunia. Dua lainnya adalah Vatican (bidang agama dan spiritual) dan Washington DC (bidang politik, militer, sosial dan budaya). (Baca: Tiga Kekaisaran Yang Tersembunyi)

Pembagian ketiga bidang besar ini (agama, ekonomi & politik) memang merupakan sistem dan pola Babel, dan jika diteliti lebih dalam, Kitab Wahyu pasal 17 & 18 telah menubuatkan runtuhnya Babel dalam ketiga bidang tersebut.

Dan berdasarkan spiritual mapping yang pernah dilakukan oleh beberapa pasukan-Nya, di dalam gedung Bank of England juga terdapat jurang maut dan posisi gedung ini memang tepat di jantung City of London.

Apa pesan yang hendak disampaikan Tuhan melalui penglihatan dan semua informasi tersebut? Dan demikianlah yang hendaknya kita pahami, yakni memang inilah waktunya untuk Gereja dan Pasukan Tuhan di Akhir Zaman menerima atau lebih ekstrimnya menjarah harta orang fasik, mengalami kelimpahan yang belum pernah ada dan takkan pernah ada lagi untuk masa "lima menit terakhir", untuk mendanai kegerakan, tsunami lawatan, panen raya terbesar, sebelum Tuhan menjemput kita di awan-awan dan Masa Tribulasi Besar itu tiba.

Kelimpahan ini memang tak terhindarkan, namun Tuhan juga memahami kelemahan dan kecenderungan kita semua berkenaan dengan limpahnya kekayaan yang akan diterima. Digambarkan-Nya bahwa kita bagaikan menjarah di tepi jurang maut, artinya jika kita menjarah TANPA pengertian yang benar dan tuntunan total dengan Roh Kudus-Nya, maka terselip jatuh ke jurang maut bukanlah tidak mungkin. Sungguh dibutuhkan mental raja sekaligus hati hamba, sebab kita harus terus menyadari dari mana kita diambil dan hendak ke mana kita bertujuan.

The Bastards

Namun sesi ibadah seminar malam itu tidak hanya sampai pada penglihatan tersebut, saya meyakini bahwa pesan Tuhan yang disampaikan saat itu tidak dipersiapkan sebelumnya lebih dulu oleh hamba-Nya, artinya lebih bersifat spontan. Pesan Tuhan tersebut diikuti dengan pesan-Nya yang lain, yang dikutip dari dari Kitab 2 Raja-Raja pasal 7, mengenai kelimpahan yang datangnya sungguh bagaikan sebuah pembalikkan keadaan yang ekstrim, dari sebuah keadaan ekonomi dengan kondisi sebuah kepala keledai berharga delapan puluh syikal perak dan seperempat kab tahi merpati berharga lima syikal perak dan saling memakan daging anak-anak kandung, tiba-tiba berubah drastis hanya dalam tempo kira-kira 24 jam menjadi sesukat tepung yang terbaik akan berharga sesyikal dan dua sukat jelai akan berharga sesyikal.

Bahkan saking ekstrimnya, seorang ajudan raja sesumbar menolak percaya hal ini sambil berkata, "Sekalipun TUHAN membuat tingkap-tingkap di langit, masakan hal itu mungkin terjadi?" Dan selanjutnya kita bisa membaca kisah tersebut dari keseluruhan pasal 7 itu. Namun mungkin masih belum banyak yang mengetahui, siapakah keempat orang kusta dalam kisah tersebut?

Menurut penelitian dan pendapat para ahli, keempat orang kusta tersebut tak lain adalah Gehazi dan ketiga anak laki-lakinya. Mereka kena kutuk kusta karena membohongi abdi Allah, Nabi Elisa, dalam perkara penyelundupan hadiah harta dari Jendral Naaman. Memang sejumlah besar hadiah dari sang jendral tidak mungkin diselundupkan Gehazi seorang diri, ia memerlukan bantuan orang lain dan tentu pihak terbaik untuk membantu dalam perkara semacam ini adalah anggota keluarga sendiri.

Berdasarkan hukum Taurat yang berlaku (Kitab Imamat 13 - 14) jika seseorang kena kusta akibatnya sungguh sangat merepotkan hingga harus diasingkan dari kumpulan bangsanya dan itulah yang dialami Gehazi dan keluarganya. Namun inilah beberapa petunjuk bahwa keempat "kustawan" adalah Gehazi dan keluarganya:

1. Mereka begitu kalap dan rakus akan harta, sampai dua kali mereka mengangkut dan menyembunyikan emas, perak dan pakaian-pakaian (2 Raja-Raja 7:8).

2. Gehazi tiba-tiba muncul di hadapan raja Yoram di istana raja untuk membela perkara perempuan Sunem sambil memuji perbuatan tuannya, Elisa. Kejadian ini terjadi setelah Samaria terbebas dari kepungan tentara Aram dan ekonominya terpulihkan. Logikanya, tidak mungkin Gehazi diizinkan berhadapan dengan raja di dalam istana, apalagi sambil membela perkara seseorang, namun dirinya masih belum tahir dari kustanya. Maka dari kejadian yang tertulis di Kitab 2 Raja-Raja pasal 8 kita dapat menyimpulkan bahwa Gehazi dan ketiga anak laki-lakinya sudah dibebaskan dari kutuk kusta tersebut.

Pertanyaan besarnya adalah ... Dapatkah kita menerima realita tersebut? Atau lebih tepatnya, relakah kita menghadapi kenyataan yang serupa, yang tertulis dalam Kitab 2 Raja-Raja pasal 7 itu? Mari kita renungkan sejenak dan mencerna perlahan kisah ini sekali lagi:

Kelimpahan telah datang di depan gerbang kota, musuh yang mengepung tiba-tiba lari terbirit-birit tanpa sebab yang dapat dimengerti dan kelihatan tidak masuk akal sambil meninggalkan harta kelimpahan yang sedemikian banyaknya. Namun ternyata pihak pertama yang menikmati kelimpahan tersebut adalah keempat orang kusta itu. Bahkan mereka yang membawa kabar baik dan membawa pembalikkan keadaan bagi bangsanya. Dan keempat orang kusta ini adalah Gehazi dan keluarganya, yang bisa disebut sebagai bajingan (The Bastards) berdasarkan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya, yakni membohongi abdi Allah, Nabi Elisa, menipu pejabat pemerintah, Jendral Naaman, rakus & tamak akan harta dan sama sekali mengabaikan adanya Tuhan atau tidak memiliki sikap takut akan Tuhan.

Sedangkan dalam kisah ini adalah pihak-pihak lain, yakni hamba Tuhan (Nabi Elisa), pemerintah (raja dan para pembantunya), dan rakyat yang sedang menderita. Namun tidak satupun dari mereka yang mengalami dan menikmati datangnya kelimpahan lebih dulu dari keempat orang kusta itu. Mereka bahkan memperoleh yang terbanyak dibanding semua pihak lainnya

Jadi sekali lagi pertanyaan besarnya adalah ... Dapatkah kita menerima realita tersebut? Relakah kita jika jalan-Nya menghadirkan kelimpahan yang telah lama dijanjikan-Nya adalah sedemikian tidak masuk akalnya? Atau kita akan berakhir seperti nasib ajudan raja tersebut, melihat kelimpahan itu datang namun tidak dapat menikmatinya sama sekali, alias hanya jadi penonton?

Keempat "kustawan" itu sadar bahwa situasi yang ada tidak memberikan satupun pilihan yang menyenangkan, sehingga mereka nekad mendatangi perkemahan musuh dengan resiko kehilangan nyawa. Dan mereka bergembira ketika mendapati perkemahan musuh tanpa penjagaan seorangpun namun penuh dengan berbagai kelimpahan. Setelah puas menimbun begitu banyak kelimpahan yang sesungguhnya tak dapat mereka tampung lagi, akhirnya mereka mengalami pertobatan setelah mereka menyadari betapa sia-sianya memiliki dan menimbun harta yang sedemikian banyak namun kondisi kusta mereka tidak berubah dan mereka tetap terasingkan dari bangsanya.

Dan akhirnya seorang dari mereka berkata, "Tidak patut yang kita lakukan ini. Hari ini ialah hari kabar baik, tetapi kita ini tinggal diam saja. Apabila kita menanti sampai terang pagi, maka hukuman akan menimpa kita. Jadi sekarang, marilah kita pergi menghadap untuk memberitahukan hal itu ke istana raja." 

Tahukah Anda bahwa memberitahukan hal itu ke istana raja dengan kondisi kena kutuk kusta adalah sama resikonya dengan mendatangi perkemahan tentara Aram, jadi mereka dua kali bertaruh nyawa, yang pertama dilakukan demi nasib mereka sendiri, namun yang kedua dilakukan demi nasib bangsanya. Bagaimana dengan kita?

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.