Monday, May 23, 2016

Yedideyah (יְדִידְיָה) Dalam Sekilas Perenungan

"Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini dan dengan perantaraan nabi Natan Ia menyuruh menamakan anak itu Yedideyah (יְדִידְיָה), oleh karena TUHAN." - 2 Samuel 12:24-25

Secara pribadi, saya menaruh hormat yang khusus kepada seorang hamba-Nya yang telah sepuh, Ev. Yusak Tjipto Purnomo. Beliau merupakan saksi dan pahlawan iman yang sangat memberkati dan menginspirasi kehidupan pribadi dan perjalanan hidup saya bersama dengan Tuhan. Dan salah satu warisan yang paling esensial terukir di batin saya adalah ketika beliau membagikan apa yang Tuhan ajarkan kepadanya, yakni berdoa meminta Tuhan paksakan kehendak dan rencana-Nya genap dalam hidup beliau. Sebab tanpa dipaksa sedemikian rupa, tidak mungkin seorang saksi iman bisa memperoleh secara utuh jatah yang sudah Tuhan sediakan baginya.

Hati dan batin saya begitu prihatin dan terbeban ketika menyaksikan kondisi kesehatan hamba-Nya ini sempat merosot drastis mulai akhir Maret 2015 lalu. Saya mengikuti setiap kabar yang bisa saya peroleh mengenai beliau, dan tanpa perlu disuruh, saya sangat mendoakan beliau. Dan suatu ketika sedang larut merenungkan kondisi hamba-Nya ini, Tuhan berkata, "Aku telah menemukan orang yang seirama dengan Hati-Ku, Daud. Namun Aku masih mencari orang lainnya lagi."

Saya mencoba merenungkan maksud perkataan-Nya cukup lama, namun saya tidak memahaminya. Hal yang paling membuat saya penasaran adalah, siapakah orang lain yang dimaksud Tuhan itu? Apakah orang itu mengacu kepada identitas tertentu? Namun dalam ketaatan, saya menyampaikan apa yang Tuhan pesankan kepada sahabat yang dikasihi-Nya itu melalui perantaraan orang lain. Mungkin saa itu hamba-Nya, Ev. Yusak Tjipto Purnomo, sudah mengerti apa yang dimaksud-Nya.

Sampai suatu ketika, pada hari Sabtu tanggal 16 April 2016 lalu, melalui seseorang yang teristimewa, saya meyakini Tuhan mulai melanjutkan pewahyuan tersebut. Orang yang teristimewa itu baru saja didoakan oleh seorang nabi kecil ketika mereka sedang ber-fellowship di Tawangmangu. Dan nabi kecil ini berpesan kepadanya, "Engkau yang dikasihi Tuhan, pilih yang terbaik, bukan dari pandangan siapapun, tapi dari Tuhan. Tuhan, terus ikat hati anak-Mu ini. Jelas sekali Tuhan bilang begini, engkau yang dikasihi Tuhan."

Orang yang teristimewa itu disuruh nabi kecil itu untuk mencari nama Ibrani dari dia yang dikasihi Tuhan itu, dan dalam bahasa Ibrani, nama Yedideyah (Yedija) artinya adalah dia yang dikasihi Jehovah (beloved of Jehovah). Dan saat hal itu disampaikan, saya memintanya untuk merenungkan firman Tuhan dari Ibrani 12:5-6, "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: 'Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.'

Yang tidak kalah menariknya adalah bahwa pada hari Senin tanggal 18 April 2016, di sebuah acara doa pagi, seorang anak muda, cucu dari sesepuh Ev. Yusak Tjipto, yakni Ev. Joshua Christian menyampaikan pesan Tuhan dengan tema yang sama persis:

"Seberapa kita ingin menjadi anak kesayangan Tuhan? Anak kesayangan bicara tentang sebuah proses dan didikan. Tuhan mengasihi banyak anak-Nya seperti Salomo, Daud, Yusuf, Abraham, Yohanes dan mereka yang dikasihi tidak pernah lepas dari proses didikan bahkan sampai sebuah cambukan yang akan menjadikan kita semakin menyatu dengan Tuhan. Seperti saya juga melewati proses dididik sampai hati dan hidup saya jadi milik Tuhan, saya harus melewati :

1. Mulai mengenal dan melayani Tuhan, membuat saya dijauhkan dan terpisah dari teman dan lingkungan sebelumnya.

2. Bermimpi yang besar, hidup bukan sekedar hidup melainkan hidup untuk kegerakan sampai lawatan atas Indonesia dan bangsa-bangsa.

3. Hati dan perasaan, bukan milik kita lagi melainkan semua tentang Tuhan dan Hati-Nya sendiri.

4. Jodoh, meletakkan seutuhnya ke Tangan Tuhan. Belajar taat dan hanya melakukan apa yang Tuhan mau."

Yedideyah: Surat Kristus


Ketika sedang menjelaskan panjang lebar mengenai Yedideyah kepada orang yang teristimewa itu, tiba-tiba batin saya teringat oleh pewahyuan-Nya yang setahun yang lalu, bahwa sosok "orang lain" selain Daud yang masih dicari Tuhan dalam diri hamba-Nya, Ev. Yusak Tjipto Purnomo adalah Yedideyah. Dan dalam sekejap semuanya menjadi begitu jelas bagi saya.

Adalah mudah bagi kita untuk mempelajari dan menyampaikan kembali kepada rekan-rekan seiman lainnya tentang kehidupan dan teladan para tokoh yang terdapat di Alkitab, mulai dari Adam, Habel, Henokh, sampai kepada para rasul. Namun mengenai Yedideyah, tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskan segamblang para tokoh lainnya, sebab Yedideyah yang dikehendaki Tuhan untuk ada namun "diaborsi" oleh Daud dengan menyebut gantinya sebagai Salomo. 

Mengapa Daud tidak pernah menyebut anaknya itu Yedideyah? Hal itu memang tidak tertulis di Alkitab. Namun dugaan terkuat atas alasan Daud adalah karena Daud mengerti sepenuhnya bahwa menjadi orang yang dikasihi Tuhan resikonya sangat besar, yakni terus menerus dididik, dihajar dan disesah sampai rasanya mau putus asa dan sering kali ingin undur dari kasih karunia. Persis sesuai dengan apa yang tertulis dalam Ibrani pasal 12. 

Yedideyah yang sebenarnya tidak pernah tertulis kisah hidupnya di Alkitab. Namun di situlah letak keistimewaannya, yakni siapapun yang rela dikasihi Tuhan dengan Ego dan ke-Cemburu-an-Nya, kisah hidup mereka yang akan menjadi surat atau kitab tersendiri yang mengkonfirmasi iman kita. 

"Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus." - 2 Korintus 3:2-4

Dan itulah yang saya saksikan dan pelajari dengan batin saya atas seluruh kehidupan hamba-Nya, Ev. Yusak Tjipto Purnomo. Perjalanan hidup beliau dengan Tuhan merupakan realita yang paling realistis yang pernah saya saksikan. Dari awal hingga sampai saat ini, seluruh kehidupan beliau berbicara tentang siapa sesungguhnya Tuhan yang saya sembah. Bukankah sering kali Tuhan katakan bahwa hidup hamba-Nya ini hendak dijadikan contoh bagi khalayak kaum beriman? Dan memang hidup beliau sungguh nyata sebagai surat Kristus, terutama bagi hidup saya.

Yedideyah: Saksi Iman Pamungkas

Sama seperti hidup hamba-Nya yang telah ditakdirkan untuk diplot pada penghujung akhir dari Akhir Zaman, demikianlah takdir Generasi Yedideyah menjadi saksi iman pamungkas yang akan membawa seluruh barisan para saksi iman kepada kesempurnaan. Mari simak firman-Nya berikut ini,

"Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceriterakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa yang dijanjikan, menutup mulut singa-singa, memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing. Ibu-ibu telah menerima kembali orang-orangnya yang telah mati, sebab dibangkitkan. Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan. Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik. Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan." - Ibrani 11:32-40

Disebutkan semua saksi iman yang pernah ada sejak awal, yakni mulai dari Habel, Henokh, Nuh dan seterusnya, lengkap dengan semua deretan prestasi mereka. Namun ternyata semua kesaksian mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan, mengapa? Karena masih ada satu pihak lagi yang harus melengkapi atau menyempurnakannya, yakni kita sebagai Yedideyah-Yedideyah-Nya. Itu sebabnya setelah penjabaran para saksi iman di Ibrani 11, maka dilanjutkan dengan nasihat untuk bertekun di dalam iman di Ibrani 12, yang tidak lain sebenarnya adalah spesifikasi dari Yedideyah yang masih terus dicari Tuhan.

Hal ini membuat saya semakin mengerti ucapan Tahun yang dirhemakan tahun lalu, "Aku ini mencari orang yang Aku wahyukan apapun, Aku percayakan apapun, Aku beri berapapun, bahkan Aku telanjang di depannya sekalipun, Aku tidak perlu khawatir bahwa orang itu akan mencuri kemuliaan-Ku."

Saya terheran menjawab, "Tuhan, apa ada orang seperti itu?"

"Memang tidak ada, tapi relakah kamu untuk Aku jadikan demikian?"

Yedideyah Atau Salomo

Relakah kita menerima porsi atau meminum cawan yang sesungguhnya dihindari Daud bagi Salomo? Betapa besarnya kemuliaan (kabod) yang dinikmati oleh Salomo, hikmat yang mengagumkan, kekayaan dan kelimpahan terbesar sepanjang sejarah, membangun dan mentahbiskan Bait Suci pertama, kehormatan yang amat membanggakan dan seterusnya. Salomo memiliki, menikmati dan memahami segala sesuatunya, namun TANPA menjadi Yedideyah-Nya, di penghujung hidupnya ia berkata bahwa segala sesuatunya itu adalah sia-sia.

Tahapan-tahapan perjalanan seseorang dengan didikan Tuhan:

1. Tiada didikan.
2. Menolak didikan.
3. Menghindari didikan.
4. Merelakan dididik.
5. Menginginkan dididik lebih lagi.
6. Bergantung penuh terhadap didikan.
7. Manunggal dengan (didikan) Tuhan.

Sampai di tahapan manakah kita hendak rela dibawa Tuhan? Saya pribadi masih terus memperjuangkan kerelaan saya, sampai Tuhan mendapati Diri-Nya ada seutuhnya di dalam hidup saya. Bagaimana dengan Anda?

Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya.

Desperate Time Needs Desperate Measure

Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.

Mudah Bagi Tuhan Untuk Membahagiakan Anak-Anak-Nya, Namun Untuk Mendewasakan, Ia Harus Menghalalkan Segala Cara

Saturday, May 21, 2016

Gerombolan Neraka Sedang Berbaris - Rick Joyner (1995)



Tanggal 16 Februari 1995 saya diberi sebuah mimpi. Di dalam mimpi itu saya melihat sepasukan besar tentara neraka telah dilepaskan untuk melawan Gereja. Dua hari kemudian saya diberi suatu penglihatan, dan di dalam penglihatan itu saya melihat gerombolan Iblis itu lagi, tetapi secara sangat rinci. 

Ada beberapa aspek dari penglihatan itu yang sungguh-sungguh menjijikkan, tetapi saya mencoba menyampaikannya persis sebagaimana saya telah melihatnya. Pekerjaan kegelapan memang menjijikkan dalam artian yang sedalam-dalamnya, dan kita harus mengenali bahwa sedemikianlah adanya. 

Dalam bagian pertama penglihatan itu saya melihat sejauh mana kejahatan telah mencengkeram orang percaya, banyaknya orang Kristen yang dimanfaatkan oleh musuh, dan hal yang harus dilakukan untuk membebaskan mereka. Pada bagian yang kedua dari penglihatan itu saya melihat suatu gereja yang mulia dan bersatu bangkit sebagai suatu pasukan yang besar dalam pertempuran antara terang dan gelap yang paling penting sepanjang zaman. Pertempuran itu sudah mulai berkecamuk. Mimpi dan penglihatan biasanya merupakan kiasan, dan sedang terjadi sekarang. Jika anda mendengar suara Tuhan melalui penglihatan ini, jangan keraskan hatimu. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Tuhan, dan bersiap-siaplah untuk memasuki pertempuran. 

Pasukan Tentara Iblis

Saya melihat suatu pasukan iblis yang begitu besar sehingga tidak kelihatan ujung pangkalnya. Pasukan itu terbagi dalam beberapa divisi dan setiap divisi membawa panji yang berbeda. Divisi yang terutama dan paling berkuasa adalah "Kecongkakan," "Merasa Diri Paling Benar," "Minta Dihargai," "Ambisi-Mementingkan Diri Sendiri," dan "Penghakiman yang Tidak Adil." Tetapi divisi yang paling besar adalah "Kecemburuan." Pemimpin pasukan yang besar ini adalah "Pendakwa Saudara-Saudara Kita" itu sendiri. Saya tahu bahwa masih ada lebih banyak divisi Iblis di luar batas penglihatan saya, tetapi divisi-divisi itu adalah ujung tombak gerombolan neraka yang sekarang sedang dilepaskan melawan gereja. 

Senjata yang dibawa gerombolan ini mempunyai nama-nama: pedangnya disebut "Intimidasi," tombaknya bernama "Pengkhianatan," dan anak-anak panah mereka disebut "Tuduhan," "Gossip," dan "Cari-Cari Kesalahan." Para pemandu dan kelompok-kelompok setan dengan nama-nama seperti "Penolakan," "Kepahitan," "Ketidaksabaran," "Tidak Mau Mengampuni," dan "Hawa Nafsu" dikirim mendahului pasukan ini untuk mempersiapkan serangan utama. Dalam hati saya tahu bahwa gereja belum pernah menghadapi yang seperti ini sebelumnya. 

Tugas utama tentara ini adalah memecah belah. Mereka ditugaskan untuk penyerangan setiap peringkat relasi: gereja dengan gereja lain, jemaat dengan gembala sidangnya, suami dengan istri, anak-anak dengan orang tua, dan bahkan anak-anak satu sama lain. Para pemandu dikirim untuk menetapkan lokasi celah-celah di gereja-gereja, keluarga-keluarga, atau pribadi-pribadi yang dapat dimanfaatkan oleh penolakan, kepahitan, hawa nafsu, dan seterusnya. Dan supaya mereka membuat keretakan yang lebih besar lagi yang dapat dimanfaatkan oleh divisi yang sedang mendekat. 

Bagian yang paling mengejutkan dari penglihatan ini adalah gerombolan ini tidak mengendarai kuda, tetapi mengendarai orang-orang Kristen. Kebanyakan di antara mereka berpakaian rapi, terhormat, dan memiliki penampilan halus budi dan berpendidikan. Mereka adalah orang-orang Kristen yang membuka diri terhadap kuasa-kuasa kegelapan sampai ke suatu tingkat yang sedemikian rupa sehingga musuh dapat memanfaatkan mereka sementara mereka sendiri beranggapan bahwa mereka sedang dipakai Tuhan. Si pendakwa tahu bahwa rumah yang tercerai-berai tidak dapat bertahan, dan pasukan ini mewakili usaha finalnya untuk mencapai suatu perpecahan di gereja sedemikian sehingga gereja akan berpaling dari kasih karunia Tuhan.
  
Para Tawanan

Di belakang divisi pertama berbaris banyak sekali orang Kristen lainnya yang merupakan tawanan pasukan ini. Mereka semua terluka, dan dikawal oleh setan-setan kecil yang bernama "Takut." Kelihatannya lebih banyak tawanan daripada setan-setan di pasukan itu. Herannya, para tawanan itu masih memiliki pedang dan perisai mereka, tetapi tidak menggunakannya. Sungguh mengejutkan melihat begitu banyak yang dapat ditawan oleh begitu sedikit setan-setan "Takut," yang kecil ini. Setan-setan ini sebenarnya dapat dengan mudah dimusnahkan atau diusir apabila para tawanan mau menggunakan senjata-senjata mereka. Di atas tawanan, langit menghitam dengan burung-burung pemakan bangkai yang disebut "Depresi." Makhluk-makhluk ini akan hinggap di bahu para tawanan dan memuntahkannya. Muntah itu adalah "Penuduhan." Jika muntah itu mengenai seorang tawanan, dia akan berdiri tegak dan berbaris sedikit lebih tegap untuk sementara waktu, tetapi kemudian jatuh tertelungkup, lebih lemah dari sebelumnya. 

Sekali lagi, saya heran mengapa para tawanan itu tidak membunuh burung-burung pemakan bangkai itu dengan pedangnya, hal yang dengan mudah dapat mereka lakukan. Ada kalanya seorang tawanan yang lemah karena tersandung dan jatuh. Begitu dia menyentuh tanah, para tawanan lainnya akan menusuki dia dengan pedang, sambil mencaci maki dia. Kemudian mereka akan memanggil burung-burung pemakan bangkai itu untuk mulai memangsa orang yang jatuh itu bahkan sebelum dia mati. Sewaktu saya memperhatikan, saya menyadari bahwa para tawanan ini menganggap muntah Penuduhan itu adalah kebenaran dari Tuhan. Kemudian saya mengerti bahwa para tawanan itu benar-benar beranggapan bahwa mereka sedang berbaris di pasukan Tuhan! 

Inilah sebabnya mereka tidak membunuh setan-setan "Takut" yang kecil itu, maupun burung-burung pemakan bangkai itu, mereka pikir makhluk-makhluk itu adalah utusan Tuhan! Kegelapan dari awan burung-burung pemakan bangkai itu membuat para tawanan sangat sukar melihat sehingga mereka dengan lugu menerima segala sesuatu yang terjadi atas mereka sebagai datangnya dari Tuhan. Satu-satunya makanan yang disediakan bagi tawanan ini adalah muntah burung-burung pemakan bangkai itu. Mereka yang menolak memakannya akan menjadi lemah sampai mereka jatuh. Mereka yang memakannya dikuatkan, tetapi dengan kekuatan dari si jahat. Mereka kemudian akan mulai memuntahi yang lain. Jika seseorang mulai melakukan hal itu, satu setan jahat yang sedang menunggu untuk mendapat tunggangan, akan diberikan yang ini dan dia akan naik pangkat ke divisi yang lebih depan. 

Yang lebih buruk dari muntah burung-burung pemakan bangkai ini adalah lendir yang memuakkan yang dikeluarkan dari pembuangan setan-setan ini di atas orang-orang Kristen sewaktu mereka menungganginya. Lendir itu adalah kecongkakan-ambisi, kepentingan diri sendiri, dan seterusnya, yang merupakan sifat dari divisi mereka masing-masing. Walaupun demikian, lendir ini membuat orang Kristen merasa jauh lebih baik daripada penuduh sehingga mereka betul-betul beranggapan bahwa setan-setan itu adalah utusan-utusan Tuhan, dan bahwa lendir itu adalah pengurapan Roh Kudus. 

Kemudian suara Tuhan berbicara kepada saya dan berkata: "Inilah awal dari pasukan akhir zaman musuh, inilah penipuan puncak si Iblis, dari kuasa penghancuran finalnya dilepaskan ketika dia memakai orang-orang Kristen untuk menyerang orang-orang Kristen lainnya. Sepanjang zaman dia telah menggunakan tentara ini, tetapi belum pernah dia berhasil menawan begitu banyak orang untuk dimanfaatkan demi maksud-maksud jahatnya. Jangan takut, Aku juga memiliki suatu pasukan. Sekarang engkau harus berdiri dan bertempur, karena tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari peperangan ini. Engkau harus bertempur untuk Kerajaan-Ku, demi kebenaran dan bagi mereka yang telah tertipu." 

Saya sudah menjadi sangat muak dan geram oleh karena pasukan Iblis itu, sampai-sampai saya ingin mati saja daripada hidup di dalam dunia yang seperti itu. Walaupun demikian, perkataan Tuhan itu begitu membesarkan hati sehingga saya segera mulai meneriaki para tawanan Kristen itu bahwa mereka tertipu, dengan pikiran bahwa mereka akan mendengarkan saya. Ketika saya melakukan hal ini, kelihatannya seluruh pasukan berpaling memandang saya, tetapi saya tetap berteriak-teriak. Saya pikir orang-orang Kristen itu akan bangun dan menyadari hal yang terjadi pada mereka, tetapi sebaliknya banyak di antara mereka yang mulai menjangkau anak-anak panah mereka untuk ditembakkan kepada saya. Yang lainnya ragu-ragu mengenai apa yang harus mereka perbuat terhadap saya. Saya tahu bahwa saya melakukannya terlalu dini, dan itu kesalahan yang konyol sekali. 

Pertempuran Dimulai

Kemudian saya berpaling dan melihat pasukan tentara Tuhan berdiri di belakang saya. Ada beribu-ribu prajurit, tetapi kami masih sangat kalah jumlah. Hanya sejumlah kecil saja yang berpakaian lengkap dalam perlengkapan perang mereka, kebanyakan hanya terlindung sebagian saja. Sejumlah besar sudah terluka. Kebanyakan yang mengenakan perlengkapan perang lengkap, perisainya terlalu kecil, dan saya tahu perisai itu tidak dapat melindungi mereka dari serangan yang akan datang. Mayoritas dari prajurit adalah wanita dan anak-anak. 

Di belakang pasukan ini masih ada gerombolan yang mengekor, yang mirip dengan para tawanan yang mengikuti pasukan Iblis, tetapi sangat berbeda dalam tabiatnya. Yang ini kelihatannya orang-orang yang sangat berbahagia, dan mereka bermain-main, menyanyi, berpesta, dan melancong dari kemah yang satu ke kemah yang lain. Hal ini mengingatkan saya akan suasana di "Woodstock" (pesta musik rock besar-besaran di Amerika). Saya berusaha berteriak mengatasi kegaduhan untuk memperingatkan mereka bahwa sekarang bukan waktunya untuk hal-hal itu, dan bahwa pertempuran hampir dimulai. Tetapi bahkan yang bisa mendengarkan suara saya hanya beberapa orang. 

Mereka yang mendengar memberi saya "tanda damai" dengan tangannya dan berkata bahwa mereka tidak percaya akan perang, dan bahwa Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi atas mereka. Saya berusaha menjelaskan bahwa Tuhan telah memberi kita persenjataan untuk suatu maksud, tetapi mereka menjawab dengan pedas bahwa mereka sudah sampai ke tempat damai dan sukacita, dan tidak ada apa-apa yang akan terjadi pada mereka di situ . Saya mulai berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan menambahkan iman (perisai) mereka yang bersenjata, untuk menolong kami melindungi mereka yang tidak siap bertempur. 

Seorang utusan menghampiri saya, memberikan sebuah terompet serta menyuruh saya untuk cepat-cepat meniupnya. Saya lakukan, dan mereka yang memiliki paling tidak beberapa senjata segera menanggapi, dan berdiri tegap. Lebih banyak senjata yang dibawanya, dan mereka cepat-cepat mengenakannya. Saya mengamati bahwa mereka yang terluka tidak menutupi luka-luka mereka dengan senjata, tetapi sebelum saya dapat berkata apa-apa tentang hal ini, anak-anak panah musuh mulai menghujani kami. Setiap orang yang tidak mengenakan segenap senjatanya terluka. Mereka yang tidak menutupi luka-luka mereka tertusuk lagi di tempat yang sama. 

Mereka yang terkena anak panah "Fitnah" segera mulai memfitnah mereka yang tidak terluka. Mereka yang terkena anak panah "Gosip," mulai bergosip, dan segera suatu perpecahan yang besar terjadi di perkemahan kami. Kemudian burung-burung pemakan bangkai menukik turun, mencengkeram yang terluka dan mengirimkan mereka ke perkemahan para tawanan. Orang-orang yang terluka itu masih memiliki pedang-pedang mereka dan dapat menebas burung-burung itu dengan mudah, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka sesungguhnya dibawa secara sukarela karena mereka sangat marah kepada kami. 

Pemandangan di antara mereka yang ada di perkemahan di belakang pasukan kami malahan lebih buruk lagi. Kelihatannya sama sekali kacau balau. Beribu-ribu terbaring di tanah, terluka dan mengerang. Banyak yang tidak terluka hanya duduk tercengang-cengang karena tidak percaya melihat yang terjadi. Yang terluka dan yang duduk dalam ketidak percayaan dengan cepat disambar oleh burung-burung pemakan bangkai. Beberapa berusaha menolong yang terluka dan menghalang-halangi burung itu dari mereka, tetapi yang terluka itu begitu marah sehingga mereka akan mengancam dan mengusir orang-orang yang berusaha menolong mereka. 

Banyak yang terluka hanya sekedar berlari sekuat tenaga dari arena pertempuran. Pertemuan pertama dengan musuh ini begitu menghancurkan sehingga saya tergoda untuk ikut melarikan diri dengan mereka. Kemudian, dengan cepat sekali, beberapa di antara mereka muncul kembali dengan persenjataan lengkap, dan perisai-perisai yang besar. Keriangan pesta telah berhenti menjadi ketetapan hati yang mengherankan. Mereka mulai mengambil tempat orang-orang yang sudah jatuh, dan bahkan mulai membentuk barisan-barisan baru untuk melindungi barisan-barisan belakang dan sayap-sayap. Hal ini membangkitkan keberanian baru, dan setiap orang menetapkan hati untuk berdiri dan bertempur sampai mati. Segera, tiga malaikat besar yang bernama Iman, Pengharapan dan Kasih, datang dan berdiri di belakang kami, dan perisai setiap orang mulai bertumbuh. 

Jalan Raya

Kami memiliki pedang yang bernama Firman Tuhan, dan anak-anak panah yang bernamakan "Kebenaran-Kebenaran Alkitabiah," kami ingin memanah balik, tetapi tidak tahu bagaimana caranya memanah setan-setan itu tanpa mengenai orang-orang Kristen yang ditungganginya. Kemudian terpikir oleh kami bahwa apabila orang-orang Kristen itu tertembak dengan kebenaran, mereka akan bangkit dan melawan penindas-penindas mereka. Saya menembakkan beberapa anak panah. Hampir semuanya mengenai orang-orang Kristen. Walaupun demikian, ketika anak panah kebenaran menusuk mereka, mereka tidak bangkit, atau jatuh terluka, mereka menjadi marah, dan setan yang mengendarai mereka bertambah besar. 

Hal ini mengejutkan semua orang, dan kami mulai merasa bahwa pertempuran ini mustahil dimenangkan, tetapi dengan Iman, Pengharapan dan Kasih, kami sangat yakin bahwa kami, paling tidak bisa mempertahankan posisi kami. Malaikat lainnya yang bernama "Kebijaksanaan" muncul dan memimpin kami untuk bertempur dari atas gunung di belakang kami. 

Di gunung itu, sejauh mata memandang ada tebing-tebing pada berbagai ketinggian. Pada setiap tingkat, tebingnya semakin sempit dan semakin sukar untuk berdiri di atasnya. Setiap tingkat diberi nama sesuai dengan kebenaran alkitabiah. Tingkat yang lebih rendah diberi nama sesuai dengan doktrin-doktrin dasar seperti: "Keselamatan," "Pengudusan," "Doa," "Iman," dan seterusnya. Dan tingkat yang lebih tinggi diberi nama sesuai dengan kebenaran-kebenaran Alkitabiah yang lebih lanjut. Semakin tinggi kami mendaki, baik perisai maupun pedang kami bertumbuh semakin besar, dan semakin sedikit anak panah musuh yang dapat mencapai posisi itu. 

Kesalahan Yang Tragis

Beberapa yang tinggal di tingkat bawah mulai mengambili anak-anak panah musuh dan menembakkannya kembali. Ini kesalahan tragis. Setan-setan itu dengan mudah mengelakkannya dan membiarkan anak-anak panah itu mengenai orang-orang Kristen. Ketika seorang Kristen terkena salah satu panah "Penuduhan" atau "Fitnah," seekor setan "Kepahitan" atau "Murka" akan terbang dan bertengger pada anak panah itu. Kemudian ia mulai buang air dan mengeluarkan racunnya di atas orang Kristen itu. Jika pada satu orang Kristen ada dua atau tiga setan ini ditambah "Kecongkakan," atau "Merasa Diri Paling Benar" yang sudah ada padanya, dia mulai beralih rupa seperti setan itu sendiri. 

Dari tingkat yang lebih tinggi kami dapat melihat hal ini terjadi, tetapi mereka yang di tingkat yang lebih rendah yang menggunakan anak-anak panah musuh tidak dapat melihat hal itu. Sebagian dari kami memutuskan untuk tetap mendaki, sementara sebagian yang lain turun lagi ke tingkat yang lebih rendah untuk menerangkan kepada mereka di sana hal yang sedang terjadi. Kemudian setiap orang diperingatkan untuk tetap mendaki dan tidak berhenti, kecuali beberapa orang yang menempatkan diri mereka sendiri si setiap tingkat untuk menolong prajurit-prajurit yang lain mendaki lebih tinggi. 

Keamanan

Ketika kami mencapai tingkat yang disebut "Kesatuan Saudara Seiman," tidak ada satupun anak panah musuh yang dapat mencapai kami. Banyak yang di perkemahan kami memutuskan bahwa sudah cukup kami mendaki. Saya bisa mengerti, semakin tinggi tingkatnya, landasannya semakin genting. Walaupun demikian, semakin tinggi, saya juga merasa semakin kuat dan semakin mahir menggunakan senjata-senjata saya, maka saya terus memanjat. 

Segera kemahiran saya menjadi cukup baik untuk menembak dan mengenai setan-setan tanpa mengenai orang-orang Kristen. Saya merasa bahwa apabila saya naik terus saya dapat menembak cukup jauh untuk mengenai pemimpin gerombolan Iblis yang ada di balik pasukannya. Saya menyesal karena banyak yang berhenti di tingkat yang lebih rendah, tempat yang aman bagi mereka, tetapi mereka tidak dapat menembak musuh. Walaupun begitu, kekuatan dan karakter mereka yang mendaki terus, membuat mereka menjadi pemenang-pemenang besar, dan saya tahu masing-masing sanggup menghancurkan banyak musuh. 

Di setiap tingkat banyak anak-anak panah "Kebenaran" berserakan, yang sepengetahuan saya ditinggalkan oleh orang-orang yang telah jatuh dari posisi itu. Setiap anak panah diberi nama sesuai dengan Kebenaran di tingkat itu. Beberapa orang ragu-ragu untuk mengambil anak-anak panah itu, tetapi saya tahu bahwa kami memerlukan semuanya itu yang bisa kami dapatkan untuk menghancurkan gerombolan besar di bawah. Saya memungut sebuah, menembakkannya, dan dengan mudah mengenai seekor setan sehingga yang lain mulai memungut dan menembakkan panah-panah itu. Kami mulai menciutkan beberapa divisi musuh, oleh sebab itu, seluruh pasukan Iblis memusatkan perhatiannya kepada kami. Untuk sementara waktu, kelihatannya semakin banyak yang kami laksanakan, semakin kami ditentang. Walaupun tugas kami kelihatannya tidak ada habis-habisnya, tetapi situasinya sungguh menggembirakan. 

Firman Adalah Sauh Kita 

Pedang kami bertumbuh setiap kali kami mencapai tingkat yang lain. Saya hampir meninggalkannya, karena nampaknya kami tidak memerlukannya di tingkat yang lebih tinggi. Akhirnya saya memutuskan bahwa pedang itu pasti diberikan kepada saya untuk suatu maksud, jadi lebih baik saya bawa. Saya menghujamkannya ke tanah dan mengikatkan diri saya sendiri ke pedang itu sementara saya menembaki musuh. 

Pada waktu itu suara Tuhan berkata kepada saya: "Engkau telah menggunakan hikmat yang akan memampukan engkau untuk mendaki. Banyak yang jatuh karena mereka tidak menggunakan pedang mereka dengan tepat yaitu sebagai sauh bagi diri mereka sendiri." Kelihatannya tidak ada orang lain yang mendengar suara ini, tetapi banyak yang melihat perbuatan saya dan melakukan hal yang sama. 

Saya heran mengapa Tuhan tidak berbicara kepada saya sebelum saya membuat keputusan ini. Saya kemudian mengerti sendiri bahwa Dia sudah mengatakannya kepada saya dengan cara tertentu. Kemudian saya memahami bahwa seluruh hidup saya telah merupakan latihan-latihan untuk saat ini. Saya sudah dipersiapkan sedemikian sehingga saya mendengar dan mentaati Tuhan sepanjang hidup saya. Saya juga mengerti bahwa untuk suatu alasan, kebijaksanaan dan pengertian yang saya miliki sekarang tidak dapat ditambahkan ataupun diambil semasa pertempuran berlangsung. Saya menjadi sangat bersyukur bagi setiap ujian yang saya alami dalam hidup saya, dan menyesal karena tidak lebih menghargainya pada waktu terjadinya. 

Dengan segera kami mengenal setan-setan itu dengan ketepatan yang hampir sempurna. Di pasukan musuh kegeraman bangkit mengamuk. Saya tahu bahwa orang-orang Kristen yang terperangkap di pasukan itu sekarang merasakan pukulan yang berat dari kegeraman itu. Karena tidak mampu mengenal kami, mereka saling menembaki satu sama lain. Karena anak-anak panahnya sekarang tidak berguna melawan kami, musuh mengirimkan burung-burung pemakan bangkai itu untuk menyerang. Mereka yang belum menggunakan pedangnya sebagai sauh berhasil menjatuhkan banyak burung, tetapi mereka juga terpukul roboh dari tebing tempat mereka berdiri. Beberapa orang jatuh ke tingkat yang lebih rendah, tetapi beberapa lagi jatuh sampai ke dasar dan dicengkeram dan dibawa pergi oleh burung-burung pemakan bangkai itu. 

Senjata Baru

Anak panah Kebenaran jarang sekali menembus burung-burung pemakan bangkai, tetapi cukup menyakiti mereka untuk mengusir. Beberapa di antara kami akan mendaki ke tingkat berikutnya. Ketika kami mencapai tingkat yang disebut "Galatia Dua Duapuluh," kami berada di atas ketinggian yang tidak dapat dicapai oleh burung-burung itu. Pada tingkat ini langit di atas kami hampir-hampir membutakan karena kecemerlangan dan keindahannya. Saya merasakan kedamaian yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya.
  
Sebelumnya, semangat bertempur saya sesungguhnya dimotivasi demi Kerajaan, Kebenaran dan Kasih kepada para tawanan, tetapi juga oleh kebencian dan kejijikan kepada musuh. Tetapi pada tingkat ini saya menyusul Iman, Pengharapan dan Kasih, yang sebelumnya hanya saya ikuti dari jauh. Pada tingkat ini saya hampir tenggelam dalam kemuliaan mereka. Ketika saya menyusul mereka, mereka berpaling kepada saya dan mulai memperbaiki dan memoles senjata saya. Dengan segera senjata-senjata itu berubah dan memancarkan kemuliaan yang ada di dalam mereka. Ketika mereka menyentuh pedang saya, sambaran petir besar yang gemilang bersinar-sinar daripadanya. Kasih kemuliaan berkata: "Mereka yang mencapai tingkat ini dipercayakan dengan kuasa dari masa yang akan datang, tetapi aku harus mengajar kamu cara penggunaannya." 

Tingkat "Galatia Dua Duapuluh" itu sangat lebar sehingga tidak ada lagi bahaya terjatuh. Juga ada persediaan anak panah yang bertuliskan nama: Pengharapan, dan yang jumlahnya tidak terbatas. Kami menembakkan beberapa di antaranya kepada burung-burung pemakan bangkai itu, dan anak-anak panah ini membunuh mereka dengan mudah. Sekitar separuh yang sudah mencapai tingkat ini terus-menerus menembakkannya sementara yang lain mulai membawa anak-anak panah ini ke bawah kepada mereka yang masih di tingkat lebih rendah. 

Burung-burung pemakan bangkai tetap datang secara bergelombang ke tingkat-tingkat di bawah, tetapi setiap kali jumlahnya berkurang dari sebelumnya. Dari "Galatia Dua Duapuluh" kami dapat mengenai musuh manapun dalam pasukan itu kecuali pemimpin-pemimpin mereka, yang masih berada di luar jarak tembak. Kami memutuskan untuk tidak menggunakan anak panah Kebenaran sampai kami menghancurkan semua burung pemakan bangkai, karena awan depresi yang mereka ciptakan membuat kebenaran kurang efektif. Hal ini memakan waktu lama, tetapi kami tidak pernah lelah. 

Iman, Pengharapan dan Kasih, yang seperti senjata-senjata kami telah bertumbuh pada setiap tingkat, sekarang sudah sedemikian besar sehingga saya tahu bahwa orang-orang yang berada jauh dari arena pertempuran dapat melihat mereka. Kemuliaan mereka bahkan memancar sampai ke perkemahan para tawanan yang masih berada di bawah awan besar dari burung-burung pemakan bangkai. Kegembiraan bertambah-tambah di dalam kami semua. Saya merasa, bahwa berada di pasukan ini, di pertempuran ini, pastilah merupakan petualangan yang paling akbar sepanjang masa. 

Setelah menghancurkan kebanyakan burung-burung pemakan bangkai yang menyerang gunung kami, kami mulai mengarah kepada burung-burung yang menutupi para tawanan. Pada waktu awan kegelapan mulai lenyap dan matahari mulai bersinar atas mereka, mereka mulai bangun seakan-akan tadinya mereka tidur lelap sekali. Mereka segera merasa muak akan kondisi mereka sendiri, terutama oleh karena muntah yang masih menutupi mereka, dan mereka mulai membersihkan diri mereka sendiri. Pengharapan dan Kasih, mereka melihat gunung tempat kami berada, dan mulai lari kearahnya. Gerombolan Iblis menghujani mereka dengan anak-anak panah Penuduhan dan Fitnah, tetapi mereka tidak berhenti. Pada waktu mereka tiba di gunung itu, banyak yang pada tubuhnya ada selusin atau lebih anak panah, tetapi tampaknya mereka bahkan tidak menyadari hal itu. Begitu mereka mulai menjajaki gunung itu, luka mereka mulai sembuh. Karena awan depresi dilenyapkan kelihatannya segala sesuatu menjadi lebih mudah. 

Perangkap 

Yang dulunya tawanan sangat bersuka cita dalam keselamatan mereka. Pada waktu mereka mulai menjejaki gunung itu, mereka kelihatan begitu larut dalam penghargaan akan setiap tingkat, sehingga kami juga semakin menghargai kebenaran-kebenaran itu. Segera suatu ketetapan hati yang dahsyat melawan musuh juga bangkit di dalam mantan tawanan ini. Mereka mengenakan persenjataan yang disediakan dan mohon untuk diijinkan kembali dan menyerang musuh. Kami mempertimbangkan hal ini, tetapi kemudian memutuskan bahwa kami semua harus tetap tinggal di gunung untuk bertempur. Sekali lagi suara Tuhan berkata: "Untuk kedua kalinya engkau memilih hikmat. Engkau tidak dapat menang jika engkau mencoba memerangi musuh di daerahnya sendiri, tetapi engkau harus tinggal di gunung-Ku yang Kudus." 

Saya tertegun bahwasanya kami telah membuat keputusan lain yang begitu penting hanya dengan berpikir dan mendiskusikannya secara singkat. Saya lalu menetapkan hati untuk berusaha sebaik-baiknya untuk tidak membuat keputusan lain dengan konsekwensi apapun tanpa berdoa. Kemudian dengan cepat Kebijaksanaan melangkah kepada kami, memegang pundak saya erat-erat dan memandang mata saya lekat-lekat, sambil berkata: "Engkau harus melakukan hal ini!" Saya kemudian menyadari bahwa, walaupun saya sudah berada di dataran luas "Galatia Dua Duapuluh" saya telah hanyut ke tepi tanpa menyadarinya, dan dengan mudah bisa jatuh. Saya memandang mata Kebijaksanaan lagi, dan dia berkata dengan sangat serius: "Kalau engkau menyangka bahwa engkau teguh berdiri, hati-hatilah supaya engkau jangan jatuh. Di dunia ini engkau dapat jatuh dari tingkat manapun." 

Ular 

Untuk waktu yang lama kami terus membunuh burung-burung pemakan bangkai dan menembaki setan-setan yang mengendarai orang-orang Kristen. Kami menemukan bahwa anak-anak panah dari berbagai Kebenaran akan memberi dampak yang lebih pada setan-setan yang berlainan. Kami tahu pertempuran ini akan berlangsung lama, tetapi tidak ada lagi korban perang, dan kami sudah melewati tingkat "Kesabaran." Walaupun begitu, setelah setan-setan ditembak lepas dari orang-orang Kristen ini, hanya sedikit di antara mereka yang mau datang ke gunung. Banyak yang sudah mengenakan tabiat setan, dan terus berada dalam kesesatan mereka walaupun tanpa setan-setan itu. Sewaktu kegelapan dari setan-setan menghilang kami dapat melihat tanah bergerak-gerak di sekitar kaki orang-orang Kristen ini. Kemudian saya melihat bahwa kaki-kaki mereka diikat oleh ular-ular yang bernama "Malu." 

Kami menembakkan anak-anak panah kebenaran kepada ular-ular itu, tetapi dampaknya kecil saja. Kemudian kami mencoba menggunakan anak panah Pengharapan, tetapi tanpa hasil. Dari "Galatia Dua Duapuluh" sangat mudah mendaki ke atas, jadi kami mulai naik ke tingkat yang lebih tinggi. Segera kami berada di suatu taman yang merupakan tempat yang paling indah yang pernah saya lihat. Di atas pintu masuk taman ini tertulis: "Kasih Bapa Yang Tidak Bersyarat," itulah pintu masuk yang paling mulia dan paling mengundang yang pernah saya lihat, sehingga kami terdorong untuk masuk. Begitu kami masuk, kami melihat Pohon Kehidupan di tengah-tengah taman ini. Pohon itu masih dijaga oleh malaikat-malaikat yang luar biasa kuatnya. Tampaknya mereka menantikan kami, jadi kami berani melewati mereka dan berjalan ke Pohon itu. Salah seorang di antara mereka berkata: "Orang-orang yang berhasil sampai ke tingkat ini, yang mengenal Kasih Bapa, boleh makan."
  
Saya tidak menyadari betapa laparnya saya. Ketika saya mencicipi buah itu, rasanya lebih enak daripada apapun juga yang pernah saya kenal. Rasa buah itu menimbulkan kembali ingatan akan matahari, hujan, padang-padang yang indah, matahari terbenam di seberang lautan, tetapi lebih dari itu, mengenai orang-orang yang saya kasihi. Dengan setiap gigitan saya semakin mengasihi segala sesuatu dan setiap orang. Kemudian musuh-musuh saya mulai muncul di benak saya, dan saya juga mengasihi mereka. Perasaan itu segera menjadi lebih besar dari apapun yang pernah saya alami, bahkan dari kedamaian di "Galatia Dua Duapuluh" sekalipun. Kemudian saya mendengar suara Tuhan, dan Dia berkata: "Mulai sekarang, inilah rotimu setiap hari. Tidak akan pernah engkau dihalang-halangi untuk memakannya. Engkau boleh makan sebanyak dan sesering engkau mau. Kasih-Ku tidak berakhir."
 
Saya memandang ke atas pohon itu untuk melihat darimana suara itu datang, dan saya melihat bahwa pohon itu penuh burung-burung elang yang putih bersih. Mereka memiliki mata yang paling tajam dan indah yang pernah saya lihat. Mereka memandangi saya seakan-akan menantikan instruksi. Salah satu malaikat itu berkata: "Mereka akan melakukan permintaanmu. Elang-elang ini memakan ular." Saya berkata: "Pergilah! Lahaplah Malu yang mengikat saudara-saudara kami." Mereka mengepakkan sayapnya dan angin yang besar datang dan mengangkat mereka ke udara. Elang-elang ini memenuhi langit dengan kemuliaan yang membutakan. Bahkan di tempat kami yang begitu tinggi, saya dapat mendengar suara kengerian dari perkemahan musuh ketika mereka melihat elang-elang ini mendatangi mereka. 

Tuhan Yesus Kristus sendiri kemudian berdiri di tengah-tengah kami. Dia menyentuh setiap orang, kemudian berkata: "Aku sekarang harus menyampaikan kepadamu hal yang Kusampaikan kepada saudara-saudara-Ku setelah kenaikan-Ku; yaitu berita Kerajaan-Ku. Pasukan musuh yang paling kuat sekarang melarikan diri, tetapi tidak hancur. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk berbaris dengan Injil Kerajaan-Ku. Elang-elang telah dilepaskan dan akan pergi bersama kita. Kita akan mengambil panah dari setiap tingkat, tetapi Akulah Pedangmu, dan Akulah Panglimamu. Inilah waktunya Pedang Tuhan dihunus."
  
Kemudian saya berpaling dan melihat segenap pasukan tentara Tuhan berdiri di taman itu. Ada pria dan wanita dan anak-anak dari segala suku dan bangsa, masing-masing membawa panji-panji mereka yang berkibar di udara dalam persatuan sempurna. Saya tahu bahwa hal seperti ini belum terlihat di bumi sebelumnya. Saya tahu bahwa musuh masih memiliki lebih banyak lagi pasukan dan benteng-benteng di seluruh bumi, tetapi tidak ada yang dapat bertahan di hadapan pasukan yang besar ini. Saya berkata, hampir berbisik, "Pastilah ini Hari Tuhan." Seluruh orang banyak itu kemudian menjawab dengan gelegar mengguntur: "Hari Tuhan Semesta Alam telah tiba."

Diambil dari "The Morning Star," Vol.5, Nos 2-4, by Rick Joyner

About Windunatha

My Photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.