Friday, July 31, 2015

Ayin Vav 5776 - Vol. 5: Full Metal Faith

"Haruslah engkau membuat mezbah dari kayu penaga, lima hasta panjangnya dan lima hasta lebarnya, sehingga mezbah itu empat persegi, tetapi tiga hasta tingginya. Haruslah engkau membuat tanduk-tanduknya pada keempat sudutnya; tanduk-tanduknya itu haruslah seiras dengan mezbah itu dan haruslah engkau menyalutnya dengan tembaga. Juga harus engkau membuat kuali-kualinya tempat menaruh abunya, dan sodok-sodoknya dan bokor-bokor penyiramannya, garpu-garpunya dan perbaraan-perbaraannya; semua perkakasnya itu harus kaubuat dari tembaga. Haruslah engkau membuat untuk itu kisi-kisi, yakni jala-jala tembaga, dan pada jala-jala itu haruslah kaubuat empat gelang tembaga pada keempat ujungnya. Haruslah engkau memasang jala-jala itu di bawah jalur mezbah itu; mulai dari sebelah bawah, sehingga jala-jala itu sampai setengah tinggi mezbah itu. Haruslah engkau membuat kayu-kayu pengusung untuk mezbah itu, kayu-kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan tembaga. Kayu-kayu pengusungnya itu haruslah dimasukkan ke dalam gelang-gelang itu dan kayu-kayu pengusung itu haruslah ada pada kedua rusuk mezbah itu waktu mezbah itu diangkut. Mezbah itu harus kaubuat berongga dan dari papan, seperti yang ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu, demikianlah harus dibuat mezbah itu." - Keluaran 27:1-8

Demikianlah deskripsi Mezbah Korban Bakaran, yakni kayu penaga (acacia wood) yang disalut atau dilapisi tembaga. Dan jika kita membuat pintu atau dinding kamar dari bahan yang sama, maka dapat dipastikan bahwa pintu ataupun dinding tersebut adalah yang paling tahan api (fire proof). Bahkan menurut sebuah pengujian, kombinasi kayu penaga yang dilapisi tembaga ini memiliki tingkat tahan api 100%.

"Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego." - Daniel 1:6-7

Adalah Sadrakh, Mesakh dan AbedNego, tiga sahabat Daniel yang ikut dalam 70 tahun Masa Pembuangan di Babel. Mereka memiliki sikap dan mentalitas yang sangat baik. Mereka tidak silau dengan gemerlap kemewahan dan kemegahan kerajaan Babel sekalipun mereka sudah diberi kedudukan yang cukup tinggi dan dihormati para pejabat di dalam pemerintahan Babel. Intinya mereka hidup menjadi terang di tengah kegelapan pada Masa Pembuangan tersebut. Teladan yang baik bagi pihak Israel maupun gentiles.

Namun datanglah hari kemalangan bagi tiga sekawan ini, yakni ketika Nebukadnezar dengan angkuhnya mengancam nyawa mereka sebagai ganti ketidaktaatan mereka untuk menyembah patung berhala terbaru hasil mimpinya yang ditafsir Daniel sebelumnya. Sungguh saat itu bukanlah situasi yang mudah, mereka terpaksa tampil beda di antara ratusan pejabat dan jutaan rakyat Babel demi mempertahankan iman mereka. Raja Nebukadnezar mencoba memberi kesempatan kedua untuk mereka tidak mengulangi kesalahan mereka, dan inilah jawaban terbaik yang pernah ada dari iman mereka yang begitu istimewa,

"Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: 'Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.'" - Daniel 3:16-18

Mereka percaya bahwa Tuhan sanggup menolong, namun ternyata iman mereka tidak hanya sampai di situ. Yang lebih menakjubkan lagi adalah bahkan jika Tuhan tidak menyelamatkan nyawa mereka sekalipun, mereka tetap percaya bahwa Tuhan baik adanya. Inilah iman yang paling bulat sekaligus paling tahan api, iman yang sekuat Mezbah Korban Bakaran. Itu sebabnya ketika mereka masuk ke dalam dapur api, tidak sehelai rambut mereka ikut terbakar. Sebab memang iman mereka membuat mereka menjadi manusia yang fire proof atau tahan api, tepatnya terhadap semua api asing. Mereka rela dan berbulat tekad untuk menjadi korban bagi keyakinan mereka, sekalipun mereka juga percaya kepada Tuhan Yang Mahakuasa, namun mereka sudah tidak memiliki kecewa sekalipun Tuhan tidak menolong mereka.

Dan inilah pesan Tuhan bagi kita semua Gereja dan Pasukan-Nya memasuki sebuah masa yang sama sekali berbeda sejak Tahun Yobel 5776 nanti. Yakni, apapun yang boleh terjadi menimpa kita maupun keluarga kita, milikilah sikap iman yang serupa dengan tiga sekawan, Sadrakh Mesakh dan AbedNego ini, iman yang bisa berkata dengan lantang bahwa sekalipun Tuhan tidak bertindak sesuai dengan yang kita harapkan, namun kita tetap percaya dan tidak menjadi kecewa apalagi menolak Dia yang begitu mengasihi kita.

Iman setinggi ini tidak bisa dibuat atau direkayasa dengan kekuatan diri kita sendiri, juga tidak bisa kita berpura-pura percaya atau berpura-pura siap martir padahal masih ada takut. Sungguh ini iman yang memang lahir dari hati yang bulat mengasihi Tuhan sekalipun kita harus mengorbankan segalanya, iman yang lahir karena telah melalui proses yang sedemikian rupa sehingga memiliki pengenalan yang mendalam akan Tuhan. Sebab tanpa pengenalan yang benar akan Tuhan, tentu yang ada hanyalah kecewa ketika Tuhan tidak bertindak seperti yang kita harapkan.

Noche Obscura Del Alma

Noche obscura del alma atau yang lebih dikenal dengan The Dark Night of The Soul merupakan sepotong frasa dari puisi karangan seorang biarawan Spanyol bernama St. John of The Cross, yang menggambarkan sebuah proses perjalanan jiwa untuk mencapai damai sejahtera dan harmoni sehingga menjadi manunggal dengan Tuhan dan segala kehendak-Nya. 

Semua pahlawan iman pasti akan melewati sebuah titik yang disebut The Dark Night of The Soul ini. Sebut saja Abraham yang harus menantikan Ishak puluhan tahun, bahkan harus mengorbankan Anak Perjanjian itu di Gunung Moria. Yakub pun demikian, ia harus kehilangan Rahel, Yusuf putra tercintanya bahkan Benyamin. Begitu juga dengan Yusuf di penjara, Musa di padang gurun, Daud dalam kejaran Saul dan seterusnya.

Bahkan Tuhan Yesus pun juga harus mengalami masa tergelap dalam hidup-Nya di Taman Getsemani ketika Beliau berusaha manunggal dengan kehendak Bapa, yakni mengisi cawan Darah Anak Domba dengan mati di atas kayu salib. Selama lebih dari 3 tahun Ia berkata bahwa apapun yang Ia katakan maupun yang Ia perbuat semuanya dari Bapa, namun saat itu Ia memohon dengan lirih, "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki." - Matius 26:39. Dan itu Dia katakan hingga dua kali. Sungguh tidak ada yang mudah ketika harus melalui kesesakan besar, namun memang itulah yang harus kita lalui dan iman yang fire proof yang mampu meloloskan kita di ujung jalan tersebut.

"Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." - Matius 7:13-14

Yobel Besar 5776 adalah sebuah kairos yang luar biasa namun juga merupakan awal dari Masa Kesesakan (Tribulasi) Besar. Perhatikan apa yang terjadi setelah tiga sekawan, Sadrakh, Mesakh dan AbedNego masuk dan keluar dari dapur api.

"Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: 'Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!' Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka. Berkatalah Nebukadnezar: 'Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.' Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel." - Daniel 3:26-30

Apa yang kita dapati setelah itu? Nama dan kemuliaan Tuhan menjadi begitu nyata di seluruh penjuru kekuasaan Babel, namun di penghujung Akhir Zaman ini Tuhan sudah menjanjikan yang lebih dahsyat lagi daripada yang diterima Sadrakh, Mesakh dan AbedNego, yakni tsunami lawatan dan pencurahan Roh-Nya kepada semua orang, 

"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu." - Yoel 2:28-29.

Tetaplah berharap untuk yang terbaik terjadi pada Yobel Besar 5776 ini, namun pada saat yang sama kita juga harus bersiap untuk menghadapi yang terburuk, masa tergelap bagi jiwa kita, Taman Getsemani kita masing-masing, untuk kita bisa menang bersama-Nya di puncak Kalvari. Tuhan memberkati.

Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.

Monday, July 27, 2015

Ayin Vav 5776 - Vol. 4: 10 Tahun Suku Bahtera Indonesia

Jika hari itu Musa tidak bertindak salah dengan membunuh orang Mesir itu dan Tuhan yakin dengan bangsa Israel untuk dapat langsung memasuki Tanah Perjanjian sekeluarnya dari tanah Mesir, maka pada tahun 1486 SM bangsa Israel sudah boleh menghitung hari-harinya sebagai bangsa yang berdaulat lengkap dengan jumlah penduduknya yang amat banyak dan tanah air yang telah dijanjikan. 

Dan pada 17 September 1945 lalu (10 Tishrei 5706) mereka sudah bisa merayakan Tahun Yobel ke-70. Namun kenyataannya, Tahun Yobel ke-70 baru akan resmi pada 23 September 2015 nanti. Lalu dari mana kita dapat mengetahui pengunduran jadwal selama 70 tahun ini?

"Firman TUHAN kepada Abram: 'Ketahuilah dengan sesungguhnya bahwa keturunanmu akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya.'" - Kejadian 15:13

"Lamanya orang Israel diam di Mesir adalah empat ratus tiga puluh tahun. Sesudah lewat empat ratus tiga puluh tahun, tepat pada hari itu juga, keluarlah segala pasukan TUHAN dari tanah Mesir." - Keluaran 12:40-41


Kepada Abraham, Tuhan mengagendakan bahwa bangsa pilihan akan mengalami perbudakan selama 400 tahun, namun kenyataannya perbudakan tersebut mengalami waktu yang lebih lama daripada yang sudah diagendakan, yakni undur 30 tahun. Mengapa undur? Hal ini dikarenakan Musa salah bersikap dan bertindak keliru.

"Ketika itu ia melihat seorang dianiaya oleh seorang Mesir, lalu ia menolong dan membela orang itu dengan membunuh orang Mesir itu. Pada sangkanya saudara-saudaranya akan mengerti, bahwa Allah memakai dia untuk menyelamatkan mereka, tetapi mereka tidak mengerti." - Kisah Para Rasul 7:24-25

Kesalahan Musa adalah memakai cara berpikirnya sendiri dan kekuasaannya sebagai seorang jendral Mesir saat itu untuk menjalankan destiny yang dari Tuhan. Kesalahan ini mungkin kelihatan kecil atau tidak terlalu berarti, namun dampaknya luar biasa, yakni bahwa bangsanya harus mengalami tambahan waktu perbudakan selama 30 tahun lagi. Karena Tuhan butuh mendidik dan mempersiapkan Musa sedemikian rupa sebelum memimpin bangsanya keluar dari tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian.

Memang sejak semula Musa begitu istimewa dan padanya ada tuntutan kesempurnaan yang dari Tuhan. Terbukti juga ketika di dekat mata air Meriba, Musa hanya teledor dengan kata-katanya maka lenyap sudah kesempatan beliau untuk ikut masuk ke Tanah Perjanjian (Mazmur 106:32-33). 

"Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: 'Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.' Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir." - Keluaran 13:17-18

"Sebab empat puluh tahun lamanya orang Israel itu berjalan melalui padang gurun, sampai habis mati seluruh bangsa itu, yakni prajurit yang keluar dari Mesir, yang tidak mendengarkan firman TUHAN. Kepada mereka itu TUHAN telah bersumpah, bahwa Ia tidak akan mengizinkan mereka melihat negeri yang dijanjikan TUHAN dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya." - Yosua 5:6


Selain 30 tahun penundaan dari sisi Musa, ada juga penundaan dari sisi bangsa Israel. Keinginan dan idealisme-Nya Tuhan adalah langsung membawa masuk bangsa Israel ke Tanah Perjanjian, dan sejak awal perintah-Nya kepada mereka adalah masuk dan duduki Tanah Kanaan. Namun mereka menegosiasikan perintah tersebut dengan misi pengintaian terlebih dahulu. 

Apa yang terjadi berikutnya? 10 dari 12 pengintai yang diutus memberikan laporan yang begitu mengerikan dan menyakiti hati Tuhan serta meracuni seluruh bangsa. Dan akibatnya adalah,

"Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati." - Bilangan 14:34-35

Penundaan untuk mengintai sebanyak 40 hari malah berbuntut amat panjang menjadi pembantaian satu generasi selama 40 tahun. Dapatkah dibayangkan berapa lama agenda Tuhan harus tertunda karena tindakan Musa dan bangsa Israel ini? Totalnya 70 tahun.

10 Tahun Suku Bahtera Indonesia

Jika Musa telah mengulur selama 30 tahun, lalu berapa lama seharusnya beliau bersiap?

"Pada waktu ia berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk mengunjungi saudara-saudaranya, yaitu orang-orang Israel." - Kisah Para Rasul 7:23

"Adapun Musa delapan puluh tahun umurnya dan Harun delapan puluh tiga tahun, ketika mereka berbicara kepada Firaun." - Keluaran 7:7

Musa melarikan diri dari Mesir pada usia 40 tahun dan kembali ke Mesir untuk membebaskan bangsanya pada usia 80 tahun. Jadi Tuhan perlu 40 tahun untuk mempersiapkan Musa ini. Total 40 tahun ini termasuk 30 tahun penguluran tersebut. Jadi sesungguhnya Tuhan mengagendakan ada 10 tahun saja untuk mempersiapkan Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.

Dengan demikian, 10 tahun merupakan waktu ideal bagi Tuhan untuk mempersiapkan seseorang (atau suatu kelompok) untuk sebuah misi khusus. Sebagai perbandingan, dibutuhkan 13 tahun untuk mempersiapkan Yusuf bin Yakub, itupun sudah termasuk 2 tahun penundaan karena Yusuf sempat menitip pesan kepada juru minum Firaun.

Suku Bahtera Indonesia dibentuk Tuhan sendiri di Semarang pada minggu terakhir tahun 2005, bertepatan dengan perayaan Hanukkah 5766 (Tahun Samech Vav - סו). Saya yakin ini bukan sebuah kebetulan, secara perhitungan tahun Ibrani sipil (versi Kitab Kejadian), perayaan Hanukkah merupakan perayaan ke-4 dari tiap Rosh Hashanah. Angka 4 berarti tanggung jawab dan juga kingdom. Jadi dari "sisi Martha" suku Bahtera dibentuk untuk bertanggung jawab dan menegaskan pemerintahan ilahi melalui Gereja-Nya yang berdaulat.

Sedangkan secara perhitungan tahun Ibrani keagamaan (versi Kitab Keluaran), perayaan Hanukkah merupakan perayaan ke-8 dari tiap Paskah. Angka 8 berarti awal yang baru, ciptaan yang baru, dan juga berarti tak terbatas (infinity). Jadi dari "sisi Maria" suku Bahtera dibentuk untuk menghadirkan pewahyuan-pewahyuan baru yang belum pernah ada sebelumnya serta berdampak begitu nyata untuk memperlengkapi "sisi Martha"-nya.


Selain itu perayaan Hanukkah sendiri merupakan perayaan rededikasi Bait Suci ke-2 setelah sebelumnya selama 3,5 tahun (168 - 164 SM) diduduki, dikuasai dan dinajiskan oleh seorang antikristus bernama Antiochus IV Epiphanes dari kekaisaran Seleucid, pecahan kekaisaran Yunani setelah kematian Aleksander Agung. Dengan demikian sangat besar kemungkinan bahwa Tuhan akan terus membawa Suku Bahtera hingga harus head-to-head dengan Sang Antikristus dalam beberapa waktu lagi. Bukankah Bahtera Nuh dipersiapkan untuk menghadapi air bah yang akan datang pada zaman itu? Demikian juga Suku Bahtera Indonesia menjadi kaum pilihan untuk menghadapi air bah manifestasi dan jerat Antikristus di penghujung Akhir Zaman.

Akhir Desember 2015 ini Suku Bahtera Indonesia akan genap 10 tahun, bertepatan dengan 70 tahun Indonesia, 50 tahun pemberontakan G30S-PKI dan sekaligus Tahun Yobel ke-70 Ayin Vav 5776. Sebuah perjalanan satu dekade dari Vav ke Vav, dari Sullam ke Sullam, sesuatu yang telah menjadi nyata, akan menjadi semakin nyata karena demikianlah Tuhan merancangnya untuk menggenapi segala sesuatunya, termasuk nubuatan besar Yesaya 60 (Vav yang dikali sepuluh kali) atas Indonesia. Kecuali Kitab Mazmur, tidak ada kitab lain di Alkitab yang jumlah pasalnya sampai 60.

Bukankah Engkau, ya Elohim, yang telah membuang kami, dan yang tidak maju, ya Elohim, bersama-sama bala tentara kami? Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. Dengan Elohim akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

Tiuplah sangkakala di Sion dan berteriaklah di gunung-Ku yang kudus! Biarlah gemetar seluruh penduduk negeri, sebab hari TUHAN datang, sebab hari itu sudah dekat; suatu hari gelap gulita dan kelam kabut, suatu hari berawan dan kelam pekat; seperti fajar di atas gunung-gunung terbentang suatu bangsa yang banyak dan kuat, yang serupa itu tidak pernah ada sejak purbakala, dan tidak akan ada lagi sesudah itu turun-temurun, pada masa yang akan datang.

Dan TUHAN memperdengarkan suara-Nya di depan tentara-Nya. Pasukan-Nya sangat banyak dan pelaksana firman-Nya kuat. Betapa hebat dan sangat dahsyat hari TUHAN! Siapakah yang dapat menahannya?

About Windunatha

My Photo
Destined to become prosperous and famous. But still learning to be happy and keep struggling to be an increasingly willing servant who dies more and more to self. A Dreamer Of Isaiah 60 fulfillment for Indonesia and by the grace of God, will witness and finish them all.